Bukan bermaksud promosi, tapi beberapa waktu lalu saya merasa happy karena disodori majalah gratis alias free magazine yang mengulas dunia arsitektur Indonesia. Lebih happy lagi karena yang menyodori ternyata teman sendiri!! Wah, sekian lama tidak ketemu tapi ternyata teman saya itu tetap konsisten dengan cita-citanya untuk membuat majalah arsitektur. Dulu, saya pernah membantu dia merampungkan artikel-artikel untuk majalah di asosiasi. Tapi umur majalahnya nggak lama, "abis terlalu banyak intrik-intrik," teman saya menjelaskan.
Kini dia secara independen membuat majalah itu (hebat ya... karena tentu tidaklah mudah dan pasti tidak murah). Dengan mengandalkan kanalan dan pengalaman, jadilah majalah yang saya pegang itu. Namanya Architect+, umurnya masih terbilang baru, sekarang masuk ke edisi ke 3. Isinya menarik dan berguna, karena agak susah kan mencari artikel arsitektur di media-media umum. Walaupun akan lebih menarik lagi kalau artikelnya lebih diolah. Waduh, rasanya kepingin gabung di bagian redaksinya. "Boleh, boleh,"kata teman saya, "Ayo nulis dong!" lanjutnya. Nah.. giliran saya yang bingung kalau ditodong suruh bikin artikel, numpuk kerjaan lagi! Saya nggak berani janji.
Bagian majalah yang paling saya suka adalah profil-profil arsitek daerah. ada juga desain baru, kritik, travel. Kalau boleh saya usul, saya kepingin menambahkan rubrik yang berisi berita arsitektur (lokal dan internasional), lalu ada juga rubrik yang mengulas gaya hidup arsitek->rata-rata mereka unik dan nyentrik kan... ada juga yang high class..atau fanatik dengan tokoh tertentu. Kayaknya seru kalau dibahas-bahas. Doa saya cuma satu, mudah-mudahan majalah Architect+ tetap exist! Soalnya menurut teman saya, mencari iklan saat ini amat sulit. Yang namanya majalah (terutama free magazine), hidupnya dari mana lagi kalau bukan dari iklan.
Jadi, pembaca sekalian sudah pernah tahu majalah Architect+ atau belum? (Oh ya, gambar cover majalahnya akan segera menyusul).
Sebetulnya saya menantikan calon pemimpin kita meneriakkan kalimat tersebut ketika berkampanye di hadapan masyarakat. Terutama mereka yang menjunjung tinggi ekonomi kerakyatan. Pembangunan mall menurut saya mesti dibatasi mengingat tempat yang menyenangkan ini membuat rakyat makin konsumtif, sementara itu di tempat lain, mall dikatakan telah mematikan pedagang kecil di sekitarnya. Memang asyik kok jalan-jalan ke mall, tapi dengan kreativitas, pasti banyak tempat menyenangkan lain yang nggak bikin kita jadi konsumtif.
Saya pernah dapat informasi bahwa ada seorang bupati di Yogyakarta yang melarang pembangunan mall di kabupaten yang dipimpinnya. Begini salah satu cuplikannya: "Mini market yang terlalu banyak dan letaknya berdekatan dengan pasar-pasar tradisional dikuatirkan bisa mengganggu perkembangan para pedagang pasar tradisional, pengusaha kecil dan toko-toko kecil di sekitarnya. Selama ini pak Bupati sudah mengeluarkan larangan pendirian mall atau supermaket, dengan alasan untuk melindungi pedagang pasar tradisional. Untuk mini market atau swalayan dan sejenisnya hanya ditunda sementara, sambil menunggu keluarnya peraturan baru". (http://www.bantulkab.go.id/web.php?menu=berita&baca=323)
Yang berbicara itu adalah salah seorang pejabat di kabupaten setempat. Wah, senang juga mendengar ada pejabat pemerintahan yang berani menolak mall. Tapi, ngomong-ngomong, efektif nggak ya cara seperti itu? Ternyata tidak sesederhana itu, karena menurut beberapa komentar, banyak penduduk yang memang dasarnya suka dengan suasana mall akhirnya jalan-jalannya ke mall di kota 'sebelah'. Jadi uangnya malah mengalir ke daerah lain, akibatnya roda perekonomian di kabupaten itu kurang giat. Seseorang juga berpendapat, adanya mall itu justru menandakan kemajuan daerah tersebut, artinya ada investor yang menangkap potensi di situ.
Kabarnya, mall bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi penduduk sekitarnya. Tapi ini buru-buru ditepis oleh salah satu warga, menurutnya, penduduk sekitar tetap miskin. Apalagi pedagang kecil, semakin tidak laku jualannya. Susah juga ya, kalau saya, mall itu baru 'berguna' kalau terintegrasi dengan fungsi-fungsi bangunan yang lain (dgn kantor, tempat tinggal, dan jenis ruang lain yang kita butuhkan). Jadi, kita tidak usah berpindah tempat terlalu jauh untuk memenuhi kebutuhan. Soalnya saya paling sebel liat kemacetan akibat mall-mall di kota. Setiap ada mall baru yang pertama kali terpikir oleh saya: "Wah, bakal macet nih daerah sini."
Apa yang terjadi pada kesempurnaan...
Bila kemapanan membuat kita terlupa
Apa yang terjadi pada kesempurnaan
Bila ikatan rasa indah hanya menjadi penjara
Apa yang terjadi pada kesempurnaan
Bila hanya membuat yang tak sempurna jadi sengsara...
:)..
Saya membuat kalimat-kalimat tersebut.. saat melihat keajaiban bentuk dan detail yang disodorkan kota tua jakarta.
Perubahan gradual pada bentuk kota lama, dan ruang-ruang kota yang menemaninya, selalu membuat cerita. Bahkan, cerita tersebut bisa dibungkus dalam rangkaian-rangkaian puisi yang indah, atau bisa juga menjadi rangkaian puisi bernada apatis.
Indah,…
saat kita membayangkan pluralitas kepentingan yang ada didalamnya. Melihat berbagai macam laku individu, yang memanfaatkan ruang kota sebagai latar cerita. Latar cerita hidup yang berakhir di album-album kenangan. Bagi saya indah, karena menjadikan ruang kota sebagai latar panggung maya kehidupan. Panggung yang menjadikan individu terikat dengan histori kota, walau hanya dalam konteks ruang kaku dalam frame album kenangan. Semakin banyak orang yang menginginkan latar itu, semakin orang sadar akan pentingnya sebuah background dengan identitas yang kuat, hingga mengingatkan kita pada ruang waktu.
Apatis,…
Saya terdiam bila ditanya, kemanakah akan dibawa makna Kota Tua ini?
Saya tidak bisa menjawab, karena saya tidak bisa meramal. Saya hanya bisa terdiam, seraya membayangkan, kota tua semakin lama semakin lapuk. Karena setiap materi memiliki umurnya. Akankah kota tua akan menjadi diam dan lapuk? Apakah yang memikirkan kota tua juga akan ikut lapuk? Apakah kritisi terhadap pemaknaan kota tua akan menjadi mimpi-mimpi yang lapuk?
Waktu adalah taruhan dari kota tua. Saya takut, revitalisasi hanya memberikan make-up yang berumur jauh lebih pendek dibandingkan pertaruhan atas waktu tersebut, yang terus berlangsung tiap detik.
Memaknai tiap detik, bergerak kala teringat…
Toilet umum bukan sekadar sebuah ruang “belakang” yang aspek desainnya bisa kita abaikan begitu saja. Karena nyatanya, tak sedikit orang memanfaatkan toilet sebagai ruang “pelarian”, karena itulah mungkin toilet sering dituliskan dengan sebutan Restroom-ruang istirahat. Tentu istirahat bukan dalam arti tidur, tapi istirahat dari situasi yang membuat kita tidak rileks. Misalnya, dalam situasi kantor yang menegangkan, kita butuh ruang privat untuk sejenak menenangkan diri. Ke toiletlah kita pergi. Atau dalam situasi pertemuan membosankan di sebuah restoran. Ke toiletlah kita berlabuh. Jadi, tak melulu “urusan belakang” yang ditampung oleh ruang servis ini. Tapi juga urusan mempercantik diri, urusan menenangkan diri, bahkan urusan bergosip seperti dalam sitkom Sex And the City dan Ally McBeal. Karena itulah, toilet bisa menjadi tantangan tersendiri saat mendesainnya agar dapat mengakomodasi segala urusan-urusan di atas.
Denah ruang servis ini berbentuk tapal kuda. Bentuk U dibelah 2 menjadi toilet wanita dan pria. Pada salah satu ujung yang menghadap ke lorong menuju mal, terdapat ruang berbentuk silinder yang berfungsi sebagai sekat penghalang atau pintu abstrak bagi kedua toilet tersebut. Ruang silinder ini dipakai sebagai nursery room. Yang menarik dari desain toilet ini adalah pada repetisi bentuk lengkung sistematis atau sederhananya- bergelombang.
Kita tengok desain bilik-bilik toiletnya. Tak seperti standar desain pintu bilik pada umumnya yang memiliki kemiringan sudut 90 derajat terhadap dinding, pintu toilet ini memiliki sudut yang tajam mengarah ke dalam bilik. Engselnya bukan sembarangan engsel. Tak terlihat! Karena memang menyatu dengan bagian dinding dan pintunya. Bagian dinding dan pintunya menerus tanpa celah patahan (yang biasanya akan dipasang engsel fabrikasi). Engsel pintu begitu mekanis, elastis, layaknya lengan kita. Saat pintu kita buka kemudian melepaskannya, daun pintu akan segera menutup otomatis dikarenakan sudut lengkung itu. Bagian pintu dibuat sebersih mungkin, dalam artian tanpa aksen atau peranti lain yang ikut meramaikan permukaan pintu. Lalu bagaimana dengan pegangan pintunya? Sebuah kotak aluminium dibuat dengan sedikit celah pada bagian yang melekat pada bibir pintu. Celah selebar 2cm inilah yang digunakan untuk mengungkit pintu saat akan membukanya.Di dalam bilik, kloset duduk dipilih yang bentuknya tanpa bagian penyangga bawah tetapi disangga pada bagian belakangnya. Serupa cantilever. Dibuat melayang seperti ini sehingga mudah perawatan. Sekaligus dari segi keindahan, efek cahayanya menjadi lebih sempurna. Perlengkapan toilet lainnya seperti tempat sampah dan tisu gulung dirancang serba tersembunyi.
Hal lain yang cukup menarik adalah permainan cahaya. Lampu berbias putih ini ditempatkan tersembunyi di bagian belakang dari setiap bentuk lengkung dan dinding kayunya. Baik dinding wastafel, sekat urinoir, maupun pintu bilik memang sudah didesain melayang, kurang lebih 10 cm di atas permukaan lantai. Namun efek hidden light lebih menonjolkan karakter bentuk gelombangnya dan membuat kesan melayang lebih dramatis.Bagi para pengguna toilet, desain toilet yang tak lumrah seperti ini akan merangsang otak untuk berfikir berbeda. Posistifnya, dorongan seperti ini akan membantu menstimulasi otak. Konon jika kedaaan ini sering dilakukan, niscaya akan mencegah penuaan dini pada otak. Semua yang serba monoton dan mudah ditebak tak akan merangsang syaraf-syaraf otak kita. Bayangkan betapa terbantunya otak kita jika banyak desain-desain baru dan inovatif seperti itu bermunculan di sekitar kita. (anis)
Beginilah suasana akhir-akhir ini, semua media sibuk memberitakan segala sesuatu tentang "kerakyatan" (atau kerakyat-rakyatan?). Minggu lalu, sebuah majalah nasional favorit saya sempat menulis juga tentang arsitektur kerakyatan, dalam rangka mengenang Alm. YB Mangunwijaya (Romo Mangun). Tokoh ini memang jempolan (bagi saya) dan merupakan satu-satunya alasan mengapa saya memilih kuliah di jurusan arsitektur. Pemikiran beliau pernah begitu mempengaruhi pola pikir saya. Sebagai fans berat, bolehlah saya menulis sedikit hal tentang beliau.
Kalau menurut majalah yang bersangkutan, beliau adalah anak bangsa yang memperjuangkan rakyat melalui arsitektur (wow.. tim sukses capres pasti senang dengan kalimat itu hehe..). Yang paling terkenal tentulah kampung di tepi Kali Code, Yogyakarta. Waktu itu, karya arsitektur merupakan suatu "mahluk" untuk kaum berada, bahkan kata "arsitektur" mungkin tidak dikenal oleh rakyat kebanyakan. Yang namanya membangun kampung kayaknya tidak dianggap sebagai karya arsitektur. Apresiasi terhadap karya beliau ini memang baru bermunculan setelah mendapat penghargaan internasional Aga Khan. Bayangkan, bantaran kali Code yang kumuh itu dia rancang menjadi lingkungan yang layak, bermaterial sederhana tapi berhasil didesain dengan kreatif dan atraktif. Kampung itu memiliki ruang-ruang publik tempat masyarakat berinteraksi. Bandingkan dengan (misalnya) desain pertokoan mewah yang juga tergolong ruang publik, tapi orang-orang di dalamnya tetap individual dan tidak merakyat (malah ngajarin orang untuk bersaing jadi paling konsumtif).
sumber foto: arsitekturfoto.com
Sebetulnya karya beliau tidak cuma pro rakyat, tapi juga pro lingkungan, coba simak kompleks Sendang Sono. Menurut artikel yang saya baca, sebetulnya Romo Mangun bukan membangun bentukan arsitektur melainkan numpang berarsitektur di alam. Jadi maksudnya, desain beliaulah yang beradaptasi sesuai dengan konteks lingkungan, bukannya malah lingkungan yang harus diubah dan disesuaikan dengan ide desain. Menurut saya, ini merupakan salah satu bentuk penghormatan manusia kepada bumi.
Romo Mangun banyak menulis buku, mulai buku arsitektur hingga sastra. Beliau pakarnya fisika bangunan (untuk merancang bangunan yang ramah lingkungan, tentulah kita harus paham fisika bangunan khususnya untuk iklim tropis). Buku-buku non arsitektur, seperti novel atau esai-esai juga sudah sebagian besar saya baca (kecuali yang tidak dijual di toko buku). Dalam tulisannya, beliau senang berfilsafat, ini yang menjadi daya tariknya. Membaca bukunya tak bisa cepat-cepat karena saya harus memikirkannya. Tapi tidak juga mudah untuk dilupakan karena membekas terlalu dalam. Saya sempat terganggu ketika mendengar ada teman yang berkomentar, "Dia kan berjuang untuk kepentingan agama tertentu". Yah, saya bukan tipe orang yang memandang prestasi seseorang karena pengaruh latar belakang keyakinannya. Jadi, saya justru kasihan banget dengan teman saya itu, pintar tapi pikirannya kok sempit sekali.

Mr. Al Gore boleh berbangga, kampanye Global Warming-nya sudah begitu merasuk ke berbagai kalangan. Termasuk kalangan bisnis yang konon demi pundi-pundi uang, mereka sulit merawat bumi. Namun, sekadar tahu, prihatin, peduli, tentu bukan tujuan akhir Mr. Al Gore dan umat manusia yang mengaku mencintai bumi. Sekedar pernyataan dan bergaya hidup "hijau-hijauan" pasti tidak cukup. Dampak dari tindakan "ramah lingkungan" untuk masa depan bumi adalah tujuan utamanya. Sudah benarkah perlakuan kita pada bumi?
Dikisahkan, seorang pejuang lingkungan asal Eropa (sebut saja Alex) sudah gigih membina lingkungan sejak 10 tahun silam. Dalam menjalankan bisnisnya, ia meyakini bahwa dengan menghemat energi pasti kita akan menghemat biaya. Tidak cuma bisnisnya saja yang dijalankan seperti itu, tapi ia juga berusaha mempengaruhi kolega bisnisnya agar mau berpihak pada lingkungan. Awalnya, Alex menjadi direktur lingkungan hidup di sebuah kompleks hotel di tempat wisata ski. Di sinilah ia memulai aksi lingkungannya, target pertamanya adalah manajer salah satu hotel di sana. Ia memberi informasi bahwa bila hotel mau memasang lampu fluorescent yang hemat energi, hotel bisa menghemat 75% pengeluaran untuk pembayaran listrik. Tapi sang manajer menolak karena khawatir suasana hotel tak bisa memuaskan tamunya. Tawaran berlanjut, "bagaimana jika di tempat parkir saja?", sebab di tempat itu pastilah tamu tak mempermasalahkan suasana ruang. Alex menambahkan benefitnya: "Anda bisa hemat 10.000 dollar, lho!". Usul ini kembali ditolak, karena manajer hotel merasa tidak perlu penghematan seperti itu. Mungkin si manajer merasa, mobil-mobil para eksekutif yang menginap pun harus diperlakukan istimewa. Usahanya saat itu gagal total.
Singkat cerita, perlu waktu bertahun-tahun bagi Alex untuk menggandeng berbagai kalangan di lingkungan bisnisnya agar mau menyediakan waktu dan uangnya demi kelestarian bumi. Kini, ia masih berjuang. Di antara kegagalan yang jumlahnya banyak sekali, setidaknya ada beberapa proyek yang berhasil ia golkan. Seperti, pembangunan pembangkit listrik mikro bertenaga air dan proyek panel bertenaga surya yang bertengger di lereng-lereng pegunungan ski. Tidak mudah untuk meyakinkan pebisnis agar mau mengubah pola bisnis yang lebih hijau. Rata-rata mereka masih menyukai hijau sebagai "label" untuk menaikkan value, tapi aplikasinya ternyata nol. Setelah berulang kali gagal, Alex berkata, "untuk menjalankan bisnis yang benar-benar ramah lingkungan rasanya mustahil. Bahkan untuk mengurangi konsumsi energi, dampaknya belum tentu berarti bagi lingkungan". Ini bukan karena dia putus asa, tapi memang demikian adanya. Dari sisi ekonomi, penghematan energi juga belum memberikan angka yang signifikan. Misalnya, ketika bisnis perhotelan semakin maju, tamu yang datang makin banyak sehingga energi yang dibutuhkan akan makin meningkat. Para pebisnis malah melihat hemat energi bukan sesuatu yang signifikan untuk dilakukan.
Di Indonesia, segala sesuatu terbentur oleh biaya. Termasuk, kondisi lingkungan yang kerap dikorbankan demi menghemat biaya. Green Economics barangkali cuma mitos, atau mungkin perlu ada sudut pandang baru agar ekonomi dan lingkungan hidup dapat berjabat erat. Nasibnya sama seperti isu Global Warming yang kayaknya makin memudar.
Selain macetnya yang nggak ketulungan, jalan ke inacraft tetap mengasyikkan :D Pameran kerajinan ini memang jadi agenda wajib para perempuan Jakarta (ada juga sih yang kebetulan dari luar Jakarta, alias dipas-pasin tanggalnya, hahaha...). Dan pemandangannya rata-rata masih sama, barang-barangnya buanyak, dan wajah-wajah lelaki atau bocah yang bosan dan sebel melihat pacar, istri, atau mamanya, bahkan eyang putrinya semangat muter-muterin semua ruang di JHCC (plus balik lagi ke tempat yang tadi nggak jadi beli). Sebagai orang yang rajin datang ke pameran kerajinan, saya hanya melihat beberapa kreasi baru (mungkin juga nggak liat semuanya saking penuhnya orang). Bagi saya, tetap saja suasana acara tahunan ini begitu menyenangkan.
Itulah daya tarik Inacraft, yang tahun ini memasuki penyelenggaraan yang ke-11. Saya sih nggak terlalu bela-beli kayak pengunjung lain (wow uang mereka banyak sekali ya?). Baju-baju batik walaupun bagus-bagus, tapi mboseni, rasanya kurang sesuai dengan tema "kerajinan". Saya tertarik sama karpet-karpet dari kayu bikinan pengrajin dari Palembang. Nah, ini pun bukan barang baru, saya sudah pernah lihat di pameran lain sebelumnya. Katanya potongan kayu-kayu itu sebetulnya limbah lalu diolah lagi sama mereka dan dirangkai-rangkai dengan tali senar jadi alas makan, alas gelas, taplak, dan paling besar jadi karpet. "Maksimal berapa besar ukuran karpetnya?" tanya saya. "Sesuai pesanan, mbak. Tapi kalau mau yang standar, paling besar 1.8 x 2.4 m (kalo gak salah)" kata si SPG. Harga tergantung ukuran dan jenis kayunya, ada yang kayu sonokeling, pinus, dan jati.
Terus apalagi ya...oo saya mampir di stand Tikalika, workshop furnitur dari Bandung. Dulu, waktu kerja di Gramedia, rekan saya pernah meliputnya dan barangnya bagus-bagus plus terjangkau kantong tipis kayak saya. Kata mas-mas yang jaga stand, sekarang di Tikalika Bandung sedang ada discount sampai 50%. Hmm... "Yah, tapi saya belum sempat ke sana nih mas". Akhirnya saya cukup berpuas diri melihat-lihat furnitur di stand itu saja. Lumayan, ada rak-rak buku kecil, display buku mungkin ya, karena hanya cukup untuk beberapa majalah/buku. Saya tertarik: "Harga boleh kurang mas?" Mas-masnya senyum, "Segitu udah pas, Mbak" Yaahh.. nggak jadi beli deh :D
Sebetulnya hari ini pamerannya masih ada, hari terakhir biasanya banyak potongan harga. Ke sana nggak ya? Iya, enggak, macetnya itu lho, iya atau enggak ya?

Saya ingin berbagi cerita saat mendatangi pameran bioskop di sebuah galeri di Jakarta beberapa waktu lalu. Sebetulnya bukan cuma isi pamerannya yang inspiratif, konsep penataan display pamerannya juga menarik. Bagi saya yang jarang ke galeri atau sejenisnya, cukup surprise juga melihat ada display di dekat wastafel, toilet, dan tempat lain yang tidak biasa. Tidak melulu dipasang di papan-papan dalam ruang pameran.
Galeri ini memang menarik. Setelah mencari tahu (bukan tempe), ternyata galeri ini adalah bagian dari kompleks komunitas kebudayaan. Desainnya sendiri konon dikatakan "percobaan" dan dirancang oleh 3 orang arsitek ternama. Ketiganya mencoba menampung kegiatan berkesenian dengan cara-cara baru. Menurut arsitek boong-boongan kayak saya, cara-cara baru itu barangkali seperti meletakkan benda pameran di dekat hidran dan lokasi tak lazim lainnya. Hal itu jadi menarik sebab cara baru yang di luar kebiasaan memang biasanya mengasyikan. Tentang desainnya nanti saya ulas di artikel lainnya.
Nah, pamerannya sendiri bercerita tentang perjalanan panjang bioskop di Indonesia dari tahun 1900-sekarang. Kita bukan hanya menyaksikan bangunan bioskop yang sudah tua dan kemudian hilang dimakan zaman, tapi ada cerita-cerita di balik itu yang memberi tahu kita tentang kehidupan di tiap zaman. Terus terang bagi saya ini merupakan salah satu cara belajar sejarah yang efektif ketimbang menghapalkan tahun-tahun dan nama-nama pahlawan di buku sekolah dulu. Belajar sejarah berarti mencoba mengerti bagaimana generasi sebelum kita beraktivitas di masa lalu. Walaupun cuma membahas bioskop, tapi pameran ini cukup menjelaskan banyak hal, melalui foto, poster, teks, dan data-data lainnya.
Sekarang, jarang kita lihat gedung bioskop yang berdiri sendiri, pasti nempel dengan mal yang konsumennya sebagian besar adalah ABG. Oo, mungkin kalau sudah dewasa rata-rata sudah punya uang untuk bikin home theater sendiri. Rekan saya nyeletuk: "ah enggak juga sih, lebih dewasa mungkin lebih irit, nonton bajakan juga cukup"(duh..). Lalu di beberapa foto, kita bisa melihat gedung bioskop yang dulu mewah, megah, bergengsi, kini jadi rumah tua bagi si "homeless". Dalam hati kita menebak, sebentar lagi gedung itu akan berganti jadi mal yang katanya lebih bernilai ekonomi. Kita juga bisa paham bahwa bioskop lama itu sesungguhnya juga pernah menggusur seni pertunjukan tradisional seperti pentas wayang orang. Hmm, penindasan budaya baru memang kejam, ya.
Entah kebetulan atau tidak, akhir-akhir ini saya sering menemui dinding-dinding yang tampil tidak polos. Baik ketika sedang kerja, mengunjungi rumah kerabat, bahkan ketika sedang jalan di pusat pertokoan atau makan di restoran. Dinding-dinding itu diolah sedemikian rupa sehingga tampilannya bukan cuma bagus tapi "mengesankan", kalau boleh agak 'lebay': begitu menggetarkan :))
Nah, karena itu saya menganggapnya dinding berhias ini sedang nge-tren (asli opini pribadi lho, tanpa melalui survey apa pun, jadi kalau salah mohon dimaafkan). Kali ini saya mau berbagi sedikit. Sayang, di setiap "penemuan" dinding-dinding dekoratif itu, saya tidak selalu mengabadikannya. Jadi, foto yang ada di sini cuma beberapa contoh. Ada yang saya potret sendiri, ada juga yang saya ambil dari internet (dengan mencari gambar yang hampir mirip).
Apa pun metodenya--ada yang berupa dinding bercat dekoratif, dipasangi wallpaper, diberi sticker, ditempeli panel kayu, dinding kayu yang diukir lalu dipasangi lampu, pokoknya semua bentuk dan cara--intinya menghasilkan dinding yang bercita rasa seni. Barangkali karena sekarang jamannya maksimalis, jadi bidang luas seperti dinding menjadi obyek kreativitas tidak boleh disia-siakan. Dari beberapa yang saya sukai, saya sekarang memilih 2 dinding terfavorit. Yang pertama cat dekoratif di sebuah restoran, dan yang satu lagi wall sticker di sebuah show unit. Dua-duanya menarik karena berwarna emas. Kenapa emas? Nah itulah, saya bukan penggemar emas dan warna emas karena identik dengan kemewahan atau suasana klasik, elegan yang seumur-umur tidak pernah jadi favorit saya. Tapi di ruang-ruang ini, emasnya cantik sekali (hmm penilaian yang subyektif sekali ya?). Jadi apa dong, saya seneng aja ngeliatnya..hehehe.. Teman-teman ada yang bisa menjelaskan?
Ya, itu salah satu yang saya sukai. Selanjutnya, saya jadi lebih memperhatikan dinding-dinding yang bersolek di tempat-tempat yang lain. Tak lama berselang, seorang teman mengajak saya menulis tentang pengolahan dinding. Tuh kan, berarti dinding yang funky memang sedang disukai banyak orang.

Senayan (atau Gelora Bung Karno), menurut keterangan yang saya dapat dari wikipedia.org adalah sebuah kompleks olahraga serbaguna di Senayan, Jakarta, Indonesia. Dibangun dalam rangka menghormati Soekarno, Presiden pertama Indonesia, yang jadi penggagas pembangunannya.
Dalam rangka de-Soekarnoisasi, pada masa Orde Baru, nama kompleks olahraga ini diubah menjadi Gelora Senayan. Setelah bergulirnya gelombang reformasi pada 1998, nama kompleks olahraga ini dikembalikan kepada namanya semula melalui Surat Keputusan Presiden No. 7/2001.[1]
Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS yang kepastiannya diperoleh pada 23 Desember 1958.
Hingga saat ini, Gelora Bung Karno memiliki daya tarik yang kuat. Warga berbondong-bondong menuju Gelora Bung Karno. Tak hanya untuk berolah raga, tapi juga untuk "menghela nafas", relaksasi, setelah melalui kepadatan jadwal harian dan kepadatan pikiran.
Tepat jika dikatakan Gelora Bung Karno adalah salah satu "paru-paru" ibukota. Letaknya di tengah-tengah deretan pencakar langit memberikan angin segar dan ruang untuk beraktivitas.
Namun diantara ruang tersebut, ada potensi yang bisa merusak fungsi utama dari ruang kota itu sendiri. Pertumbuhan pedagang kaki lima yang tidak terkontrol misalnya. Ruang-ruang hijau di Gelora Bung Karno menimbulkan kesempatan untuk berinteraksi. Titik-titik interaksi inilah yang potensial untuk dijadikan lahan berbisnis para pedagang kaki lima. Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatur keberadaan pedagang kaki lima ini. Usaha itu tidak bermanfaat banyak, karena pangkal permasalahannya belum tersentuh. Ruang-ruang interaksi, berupa area istirahat, area parkir, dan area pintu gerbang yang "dimampatkan" justru menjadi "ruang positif" bagi pedagan kaki lima.
Mungkin solusi yang bisa dilakukan adalah, pemetaan kembali lahan parkir, dan jalur /path menuju area berlari. 
jangan terkecoh! ini bukan tulisan tentang arsitektur masjid berkubah emas di satu daerah di sekitar Depok. ini hanya obrolan antara saya dan teman-teman beberapa waktu lalu. bermula dari salah satu liputan teman yang membahas masjid yang terkenal itu. saya agak menyesalkan isi tulisannya yang terlalu memuji-muji bangunan tersebut--tapi dari sisi "sepuhan emas 24 karatnya", bukan karena kelebihan lain, misalnya arsitektur, ornamentasi atau hal lain yang mungkin lebih penting. saya tidak berniat mengutarakan hal ini, tapi di antara omong-omongan itu entah mengapa terlontar juga celetukan iseng saya: "ooo...jadi asal ada emasnya, si masjid pasti lebih bagus dari yang lainnya yah."
dan teman saya itu mungkin tersinggung, atau tersadar, tapi lalu dia mempertahankan diri: "bukan begitu maksudnya, kalau ada emasnya kan jadi spesial banget, lebih mulia (dari kata logam mulia??), berarti kita menempatkan masjid sebagai yang terbaik karena materialnya juga yang terbaik."
(saya) "terus apa pengaruhnya, emang ibadahnya juga lebih baik daripada di masjid lain?" yah, memang saya bukan pengikut "aliran" bahwa tempat ibadah harus bagus, mewah, mengkilap. justru kalau bisa kumuh, jelek, ada di terminal yang hingar bingar, bau sampah pasar, tapi tantangannya: ibadah bisa tetap khusyu'. (maaf kalau terlalu ekstrim).
jadilah obrolan kemarin itu ajang perdebatan yang membosankan. apalagi ternyata teman-teman yang lain lebih setuju dengan teman saya tadi. beberapa komentar mereka:
>"ya bagus-bagus aja sih, itu menandakan islam sedang berjaya, alhamdulillah"
>"lebih banyak positifnya kok, sekarang malah jadi tempat tujuan wisata, kan"
>"masjid ini bukti kemegahan islam, jadi agama lain yang melihat lebih hormatin muslim"
>"loe udah pernah ke sana belum, belum kan? coba deh ke sana, pasti loe bakal mengagumi masjid itu karena memang luar-dalamnya indah banget" (mulai lagi deh puji-pujian berlebihannya)
saya yang kalah akhirnya cuma berkomentar: "mending uangnya dikasih ke yang membutuhkan atau bangun sejuta masjid lain yang lebih sederhana." Yah... memang terserah yang punya uang, yang penting halal.
....dapur adalah salah satu bagian di dalam rumah yang saya sukai....
maka ketika menemukan berita tentang desain dapur termutakhir, saya langsung buru-buru menandai situs-situs web yang berkenaan dengan berita tersebut. siapa tahu di lain waktu saya membutuhkannya. ada banyak model dapur, tapi di sini saya hanya akan membahas 3 yang saya sukai. 
1. Acropolis, the circular kitchen
(by Snaidero)
Desain dapur ini mungkin mendekati impian saya yang suka memasak (walau belum tentu enak:D), bentuknya melingkar (sehingga kitchen setnya memutari badan saya). dalam bayangan saya, ini membuatnya terlihat begitu fungsional. barangkali setiap gerakan saya akan efektif dalam dapur ini. Snaidero memiliki beberapa seri desain circular yang bisa disesuaikan dengan berbagai bentuk-bentuk ruang. dapur memutar ini juga dilengkapi dengan sebuah komputer, lumayanlah untuk browsing resep atau menonton demo memasak di you tube :D
2. The Z kitchen
(by Zaha Hadid)
Kalau yang satu ini saya sukai sebab dapur ini telah dilengkapi dengan perangkat-perangkat futuristik. Karena masak-memasak tak bisa lepas dari produk berteknologi, dapur ini bisa dibilang ideal. atau bagi sebagian orang justru berlebihan. apakah memang perlu memasak dengan ditemani oleh multimedia entertaining system (berupa flat screen dan mac mini)? tapi saya rasa itu tidak ada salahnya. "kehebatan" lainnya adalah fasilitas heating membrane, scent dispenser, control panel touch screen, dan lain-lain yang lama-lama saya tak paham lagi gunanya untuk apa. 
3. Sheer bubble
(by Sheer Italy)
Saya langsung menyukai desain ini karena ukurannya yang super-mini, konon diameternya cuma 148 cm. dan pastinya memiliki desain yang sangat kompak. berwujud satu unit yang (katanya) fleksibel untuk diletakkan pada ruang yang tidak luas (sempat ragu juga dengan desain yang membulat seperti itu). tapi setelah melihat gambarnya, cukup masuk akal karena ibaratnya unit dapur ini seperti furnitur yang bisa "disimpan". ketika akan digunakan, unit bisa "dibongkar" menjadi seperti meja kerja lalu bila sudah selesai langsung bisa ditutup sehingga tampak rapi. hmm ada kulkas dan ovennya juga lho..
dapur memang sudah berevolusi menjadi gadget berfitur canggih, tapi seperti halnya karakter gadget, makin canggih biasanya harganya makin muahall.....:D
Seni Bongkar-Pasang pada Sebuah Ruang Pamer
Untuk menikmati koleksi benda-benda seni, terkadang kita perlu terbang ke suatu negara tertentu. Misalnya, untuk menikmati karya Jeff Koons kita harus pergi ke Museum Guggenheim Bilbao di Spanyol. Atau koleksi karya seni kontemporer milik Tate Modern Museum di London, Inggris. Berbeda dengan keadaan di atas, hasil kolaborasi antara arsitek Inggris kelahiran Bagdad, Zaha Hadid, dengan rumah mode Chanel, mencoba menghadirkan sebuah ruang pamer non-permanen yang memiliki mobilitas. Dalam makna global, obyek-obyek seni beserta wadahnya yang bepergian dari satu negara ke negara lainnya. Bukan manusianya yang mendatangi negara dimana museum itu berada.
Chanel Mobile Art, begitulah namanya. Ruang pamer ini akan berpindah-pindah tempat mulai tahun 2008 ini hingga 2010. Beruntunglah enam kota pusat mode dari enam negara yang disinggahinya, yaitu Hong Kong (Februari-April 2008), Tokyo (Mei-Juli 2008), New York (Oktober-November 2008), London (Mei 2009), Moskow (Oktober 2009), dan Paris (Januari-Februari 2010). Seperti halnya Museum Guggenheim di Bilbao, obyek pameran bukan hanya yang berada di dalam bangunan, tetapi bangunannya itu sendiri juga merupakan obyek seni yang layak diberi apresiasi. Arsitektur dan seni memang merupakan dua kata yang saling terkait. Bangunan non-permanen yang oleh Zaha Hadid disebut sebagai paviliun, merupakan obyek pameran yang nampaknya paling menarik minat pengunjung.
Chanel Mobile Art menjadi terobosan baru sebuah ruang pamer yang sangat fungsional, praktis, elegan, dan dinamis. Bentuknya yang organik terasa begitu mengalir, luwes, dan bergerak. Bentuk massa oval tak simetris ini seolah-olah bergerak dan mengalir tanpa henti dari sudut ke sudut. Konsep bergerak dan mengalir juga diterapkan dalam layout ruang. Pintu masuk dan pintu keluarnya berada pada satu zona berdekatan, sehingga pengunjung di dalam ruang pamer akan diajak untuk bergerak berputar mengelilingi massa utamanya.

menata berarti merubah dan mengkomposisikan elemen menjadi lebih nyaman, lebih seimbang, lebih berarti, saat dipandang, saat dirasakan, dan saat difikirkan.
Maka tak heran aktivitas menata bisa terkait langsung dengan kepribadian kita. Semakin sering kita menata elemen di rumah, smakin jelas kita memiliki "sense of belonging" yang tinggi pada lingkungan kita. Hidup membutuhkan keseimbangan. Dan keseimbangan itu tidak hanya datang dari pikiran kita, tapi juga dari cara menyeimbangkan diri dengan elemen-elemen yang ada di lingkungan sekeliling.
Hmmm...Semakin mudah rasanya kita mendapatkan keseimbangan bila semua elemen saling tersusun dengan komposisi yang indah, saling terkait satu sama lain, dengan chemistry (semangat) yang sama atau kadang saling berhubungan. Layaknya makhluk hidup, lingkungan memiliki bahasanya sendiri...Namun maknanya selalu bisa kita rasakan. Lingkungan yang baik memberi makna kenyamanan, lingkungan yang buruk memberikan semangat memberontak...
Kembali melihat isi rumah. Kesan pertama sangat penting ketika kita menikmati sebuah ruangan. Istilah "don't judge a book by it's cover" tak berlaku. Mata tak akan membohongi hati dan fikiran saat melihat elemen-elemen di rumah. Benda mati hanya memiliki bentuk, warna, tekstur, tergantung bahan pembuatannya. Maka tak ada nilai-nilai subjektif yang bisa mengaburkan kesan yang kita terima pertama kali terhadap elemen ruang. Komposisi dan proporsi secara tak langsung mengikat bentuk ruang. bentuk ruang yang bisa diistilahkan dengan shape menjadikan ruang memiliki pesan yang bisa kita tangkap.
Lihatlah ruang seperti kita berada dalam sebuah prosesi ritual inagurasi diri kita sendiri. Proses adaptasi tersebut akan terasa hingga kita mengenal secara detail setiap elemen-elemen penyusun ruang. Saat inagurasi selesai, akan selalu timbul keinginan untuk menambah, mengurangi, atau merubah tatanan dari elemen ruang atau warna dan bahan penyusun elemen ruang. Kita akan ingin terus menikmati makna baru.
Menata ruang tak lain adalah proses memaknai diri. Dan berubah adalah sebuah tuntutan yang didakwakan pada insan-insan yang terus belajar, hingga ia mengenal, memahami, dan mensyukuri makna-makna yang terkandung di alam...
"Di Indonesia nih?" demikian ungkapan keheranan robertsmith, salah satu anggota forum komunitas.Tampilan bandara baru Sultan Hasanuddin ini memang beda dengan bandara lain di Indonesia. "Bercita rasa modern," kata pejabat Angkasa Pura saat soft opening, 4 Agustus lalu. Karena bandara yang lama dianggap kurang layak untuk menjadi pintu gerbang Makassar, maka sejak 3 tahun lalu dimulailah pembangunan bandara yang baru. Letaknya hanya 2 km dari bandara lama. Kini, bandara baru sudah sebulan beroperasi, kendati acara peresmiannya terus tertunda. Tampilan baru yang mencengangkan bagi sebagian orang ini tak luput dari kritik. Menurut Lembaga Ekonomi Insan Sulawesi, bangunan bandara ini arsitekturnya tak berkarakter Makassar. Kami setuju, meski hanya melihatnya dari foto atau gambar bergerak di Youtube.com. Sekilas mirip dengan bandara di China atau Korea. Tapi kritik ini buru-buru ditampik pihak bandara. Dikutip dari Tribun Timur: "Kita tidak secara langsung mengadopsi arsitektur lokal, melainkan gabungan modern dan tradisional. Misalnya, lengkung-lengkung di bagian depan menggambarkan semangat orang Bugis/Makassar dan gerbang utama idenya dari atap rumah Toraja Tongkonan." Namun menurut kami, penggabungan ini sekadar bentuk, bukan ruang sehingga tetap kurang terasa.

Satu yang menurut kami menarik adalah langit-langit interior lantai atas, konon mengambil model kain sulam tradisional Mandar. Semoga dengan bangunan baru ini bandara Hasanuddin makin meningkat kualitasnya, baik keselamatan (safety), keamanan (security), maupun pelayanan publik (service). Tidak lagi terburuk versi audit Departemen Perhubungan (baca: http://www.antara.co.id/arc/2007/6/12/ngurah-rai-bandara-terbaik-hasanuddin-terjelek/), seperti tahun 2007 lalu.
Kami memang bukan orang Jakarta asli, kami cuma pendatang yang numpang cari makan di sini. Terus terang, banyak yang belum kami ketahui tentang Jakarta. Kebetulan di hari ulang tahun Jakarta kali ini, kami terpengaruh oleh siaran televisi yang hampir semua bernuansa Betawi-betawian. Lalu benak kami sedikit bertanya-tanya bagaimana kondisi Jakarta pada 22 Juni, 481 tahun lalu. Hasil pencarian kami tak banyak, mungkin banyak, tapi tiap sumber punya versi cerita yang berbeda-beda dan tak saling melengkapi. Namun, lumayanlah untuk sekadar mendapat sedikit gambaran.


Senin tanggal 5 Mei 2008, Saya mengikuti forum pengembangan wawasan yang diadakan oleh redaksi majalah iDEA. Kali ini redaksi mengundang pakar arsitektur lansekap, Nirwono Yoga (dipanggil mas Yudi), dan rekannya ibu Anggia Murni, seorang pakar di bidang lansekap dan plannery.
Beberapa hal penting terungkap di forum. Diantaranya mindset tentang pembuatan taman di rumah yang sering dipahami secara pendekatan visual saja. Bahwa memiliki taman yang indah membuat hati puas itu betul. Namun banyak hal lain yang harusnya kita sadari terkait keberadaan kita di lingkungan, seperti larinya run off water (air di atas tanah) dan recycling dari sampah-sampah organik (daun-daun, dan batang busuk) yang berasal dari taman kita.
Kesadaran kecil terhadap dua hal diatas berarti membuka mata kita agar bisa melihat kehadiran taman dalam kacamata nilai-nilai ekologis.
Ekologis?
Ternyata menurut Nirwono Yoga, pendekatan fungsi taman secara ekologis lebih utama bagi para pemilik rumah-rumah kecil. Karena untuk lahan yang kecil, makna kapasitas lahan sebagai tempat serapan air dan recycle bahan organik menjadi lebih krusial dibanding hanya membuat taman yang indah dan cendrung memubazirkan biaya karena mahal. Taman yang berfungsi ekologis juga lebih bermanfaat untuk desain-desain rumah yang bertemakan Green Building. Nilai-nilai ekologis juga membuat desain taman menjadi lebih ekonomis dan efisien dalam pemeliharaannya.
Apa sih yang harus dilakukan bila kita ingin membuat taman yang ekologis?
Ada beberapa 3 pendekatan utama sebenarnya yang bisa dilakukan untuk memahami taman yang ingin kita buat.
1. Mengintegrasikan desain taman dan desain rumah
Banyak cerita dan kejadian yang kita dengar dan lihat, tentang taman yang membosankan atau tidak nyambung dengan bangunan. Apa sih penyebabnya?
Seperti ungkapan dalam zen, keselarasan adalah kunci ketenangan. Keselarasan desain taman yang mencakup komposisi,posisi, dan desain taman (misal modern, klasik, atau tropis) dengan rumah menjadi kunci utama dari kesuksesan mendesain taman. Taman yang menarik akan membuat nilai visual rumah pun menjadi lebih menarik. Nilai visual yang terintegrasi, tidak saling mendominasi satu sama lain sehingga terlihat nyaman dipandang.
Komposisi taman haruslah seimbang. penggunaan hard material dan soft material harus disesuaikan dengan luasan lahan dan bukaan yang ada di rumah. Rumah yang banyak bukaannya mungkin menjadi tren saat ini (terkait dengan isu global warming dan penghematan energi), namun apa jadinya bila rumah dengan bukaan yang banyak itu tidak didukung oleh taman-taman yang rimbun. Panas, kering kerontang dan gerah rasanya di dalam rumah.
2. Memahami elemen-elemen ekologis di rumah
Beberapa kendala pasti muncul saat mendesain taman, salah satunya yang paling umum adalah keterbatasan lahan. Apakah perlu kita membuat taman, karena untuk jemur aja lahannya masih kurang?
Naaa disini lah peran pendekatan taman ekologis berbicara. Taman tidak harus berfungsi secara visual, namun taman tetap dibutuhkan sebagai lahan serapan air. Selain itu memang di setiap lokasi khususnya di Jakarta telah memiliki standar persentase penggunaan lahan. Standar itu tertuang dalam RUTR pemda DKI yang menetapkan keharusan adanya lahan hijau di rumah, walau persentasenya berbeda-beda di setiap kawasan. Seperti di Jakarta Utara yang relatif padat, KDH (koefisien Dasar Hijau)-nya hanya sekitar 10%. Berarti, harus ada sisa lahan sebesar 10% dari luas lahan yang ada untuk dijadikan lahan hijau ( taman, atau lahan serapan). Untuk wilayah lain di Jakarta, persentasenya lebih besar lagi. Di Jakarta Barat sekitar 15-20%, dan di Jakarta Selatan mencapai 25 -40% lahan hijau yang harus disediakan.
Saat mendesain rumah, hendaknya kita memikirkan aspek ekologis juga. Kemana air hujan mengalir, kemana daun-daun kering akan dibuang? Akankah dibuang ke tempat sampah begitu saja?. Dan satu hal lagi, haruskan taman ditanami tanaman yang mahal?
Desain taman yang terintegrasi berarti juga mengintegrasikan kebutuhan hidup kita pada taman yang kita buat. Hal itu termasuk menjadikan taman sebagai tempat kita memelihara tanaman produktif untuk kebutuhan kita. Keadaan saat ini menuntut kita (warga kota) lebih mandiri dalam bertindak. Menanam tumbuhan produktif seperti rempah-rempah dan tanaman obat adalah salah satu tindakan yang bijak untuk mengurangi pemakaian energi bensin saat pergi ke pasar hanya untuk membeli rempah-rempah.
Di sisi lain desain yang matang membuat kita tak gagap saat tren baru melanda. Orang-orang sedang gagap menggunakan sumur biopori, kita ternyata juga sudah menerapkan prinsipnya (menguraikan zat organik) dengan membuat sumur-sumur serapan sendiri sedari awal.
3. Melakukan pendekatan kebutuhan 5 panca indera kita terhadap taman
Taman selalu ada di rumah-rumah masyarakat Indonesia sejak jaman dulu. Walaupun memang tipologi taman khas Indonesia menurut Nirwono Yoga tidak menggunakan rumput sebagai hamparan utama, namun terdiri dari kelompok-kelompok tanaman yang dipisahkan oleh jalur-jalur path utama. Ini berarti kebutuhan orang akan sebuah ruang visual untuk refresing mata adalah mutlak. Keberadaan taman terkait dengan kebutuhan maintenance panca indera kita. Panca indera kita pun butuh asupan-asupan makanan visual dan taste baru agar tidak mudah merasa jenuh dan bosan dengan keadaan yang ada.
Mata tak harus dibiarkan letih melihat hamparan jalan hitam, dan bentangan gedung-gedung yang tinggi menyilaukan mata. Mata butuh kembali ke alam agar diperkaya dengah hal-hal baru dari alam yang akan membuat kita bersyukur atas penciptaan.
Menurut ibu Anggia murni, salah satu fungsi taman adalah sebagai pengalih pandangan untuk memperkaya fungsi panca indera. Memahami alam membuat mindset kita berkembang, dan mempengaruhi karya kita. Wah, bener deh, pemerintah kita begitu tertinggal mindset-nya. Saat pemerintah Jakarta masih sibuk mengejar target penanaman 10.000 pohon dengan mengabaikan jarak tanam sehingga tumbuh semrawut, Singapur sendiri sudah berbenah maju beberapa langkah dengan mendesain taman kota yang bisa didatangi banyak kunang-kunang, kupu-kupu, dan burung-burung yang memperindah suasana.
Pengayaan taman yang memberikan makna kaya pada panca indera itu penting, seperti penanaman tanaman yang tidak hanya berdaun hijau, tapi bisa juga silver, atau pemberian ornamen pembentuk suasana yang menyegarkan mata.
Pendengaran pun menjadi penting saat menikmati taman. Suasana kicau burung pagi, gesekan pohon dan daun bambu, atau gemericik air membuat suasana tenang dan kita merasa jauh dari masalah. disitulah fungsi taman sebagai penghibur pendengaran. Taman pun bisa membantu kita memperkaya daya indera penyentuh kita, misalkan dengan menanam tanaman yang memiliki tekstur bermacam-macam, seperti pakis monyet atau tanaman anthurium yang memberikan kesan melegakan saat kita berhasil membuat anthurium kita berdaun besar dan kokoh saat disentuh.
Ingin rasanya kita memiliki taman yang indah, yang memanjakan panca indera dengan keindahan visual, kelembutan, dan harumnya. Hal-hal itu bisa membuat kita merasa lepas dari kerumitan masalah dalam hidup. Kembali ke alam sebuah pilihan yang indah. Ayo kita bersahabat dengan alam!